logo

Sejarah Terbentuknya Koperasi Wisuda

Sejarah panjang KSP Wisuda Guna Raharja dengan aneka lintasan peristiwa yang boleh dilalui, akhirnya membawa KSP Wisuda Guna Raharja pada keadaan seperti sekarang ini.

Bagaimana pun, nilai-nilai yang dipelajari dari setiap peristiwa sejarah, telah membentuk karakter KSP Wisuda Guna Raharja sebagai lembaga keuangan yang berbasis anggota. Oleh karena itu, KSP Wisuda Guna Raharja tidak hendak melupakan sejarahnya sendiri dengan berbagai lika-likunya.

Tagura Cikal Bakal

Cikal bakal KSP Wisuda Guna Raharja adalah komunitas kecil yang disebut TAGURA atau Tabungan Guna Raharja. Komunitas TAGURA ini dibentuk orang-orang muda Katolik pada jamannya, yang sangat peduli pada keadaan dan masa depan Gereja Katolik, masyarakat, negara dan bangsa Indonesia. Pada lingkup yang lebih kecil, khususnya di lingkungan umat Katolik, pada tahun 1969 perkembangan sosial-politik dan kemasyarakatan tampaknya diwarnai oleh berbagai tekanan yang cukup berat bagi umat Katolik di Provinsi Bali. Pada waktu itu muncul kasus Br. Padang Tawang, Desa Canggu Kecamatan Kuta Utara- Badung yang berbau sara dan juga masalah kuburan. Tekanan-tekanan ini mendorong sekelompok awam Katolik yang adalah eks aktivis Partai Katolik Provinsi Bali maupun Kabupaten Badung untuk menghimpun diri dalam sebuah wadah untuk saling tukar pengalaman dan saling meneguhkan. Wadah inilah yang disebut TAGURA.

Ide pembentukan TAGURA tercetus pada bulan April 1969 dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di rumah F.X. Wayan Geria (kini sudah almarhum) di Jalan Pulau Kawe (sekarang Jalan Pulau Kawe No. 39 atau lebih dikenal Toko Lima). Para pencetus berdirinya TAGURA adalah Wayan Gabra dari Tangeb, Nyoman Nyuru dari Tangeb, Wayan Sudri dari Tuka, Nengah Yokanan dari Padang Tawang, Nyoman Kasun dari Sading, F.X. Wayan Geria dari Denpasar, Wayan Wardiana dari Denpasar dan Ign. Sugeng Raharjo dari Denpasar.

Tujuan dibentuknya kelompok TAGURA adalah sebagai sarana berkumpul untuk melanjutkan ide-ide perjuangan sesama mantan aktivis Partai Katolik. Prinsip perkumpulan TAGURA adalah persaudaraan dan solidaritas. Persaudaraan dimaksud adalah persaudaraan berdasarkan Firman Tuhan yang menyatakan: “Saudaraku adalah mereka yang mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah.” Kelompok TAGURA melaksanakan pertemuan rutin satu kali dalam sebulan. Selain sharing pengalaman iman, diskusi masalah-masalah sosial politik, para anggota TAGURA sepakat untuk menabung sebesar Rp 50,00 (lima puluh rupiah) per anggota setiap kali pertemuan. Dana yang terkumpul bisa dimanfaatkan oleh anggota yang memerlukan.

Pada masa itu arah perjalanan TAGURA belum jelas tergambar tetapi kegiatan perkumpulan ini terus berjalan sambil mencari bentuk usaha yang tepat. Keanggotaan pun dari tahun ke tahun terus bertambah. Sampai tahun 1979 kelompok TAGURA sudah mencatat 25 orang anggota. Memang sengaja kelompok ini hanya membatasi jumlah anggotanya sampai 25 orang. Selama sepuluh tahun keberadaannya, TAGURA, berhasil mengumpulkan modal sebesar Rp 6.000.000,00 (enam juta rupiah). Ternyata jumlah ini mengalami over modal karena tidak ada anggota yang meminjam. Pada saat itu uang Rp 6 juta sangat banyak dan tentu saja sangat berisiko karena pengelolaannya masih konvensional. Tahun 1979 mulai dirintis untuk pendirian sebuah koperasi.

Menjadi WISUDA GUNA RAHARJA

Ide mendirikan sebuah koperasi dengan bidang kegiatan simpan pinjam pada Nopember 1979 kemudian ditindaklanjuti dengan mengurus Badan Hukum di Departemen Koperasi. Badan Hukum yang hendak diajukan adalah Badan Hukum untuk koperasi simpan pinjam dengan nama Koperasi Simpan Pinjam (KSP) GUNA RAHARJA. Namun ternyata ada kendala untuk segera merealisasikan keinginan kelompok TAGURA, karena ternyata ada koperasi lain yang mengajukan badan hukum untuk koperasi simpan pinjam, yaitu KSP WISUDA yang merupakan binaan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pada saat itu berlaku peraturan bahwa dalam sebuah wilayah tidak boleh ada lebih dari satu koperasi dengan usaha yang sama.

Melalui perjuangan yang gigih dan kesepakatan dengan koperasi binaan Fakultas Ekonomi Unud, Departemen Koperasi memberikan satu Badan Hukum dengan nama Koperasi WISUDA GUNA RAHARJA. Koperasi yang dibentuk kelompok TAGURA menjadi Unit Usaha I, sedangkan koperasi binaan Fakultas Ekonomi Unud menjadi Unit Usaha II. Dalam perkembangannya, Unit Usaha II hanya bertahan selama enam bulan, Unit Usaha I tetap eksis. Akhirnya badan hukum dimanfaatkan oleh Unit Usaha I (kelompok TAGURA), tetap dengan nama KSP WISUDA GUNA RAHARJA.

Jika banyak pihak bertanya soal nama “Wisuda” pada KSP WISUDA GUNA RAHARJA, jawabannya adalah nama itu merupakan hasil gabungan antara koperasi binaan Fakultas Ekonomi Unud yang bernama “WISUDA” (Wirasuasta Teladan) dan “GUNA RAHARJA” yang dibentuk kelompok TAGURA.

Tahun 1981, melalui surat Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Koperasi Provinsi Bali Nomor 41/DK-22/D1-XI/1981 KSP Wisuda Guna Raharja resmi berbadan hukum dengan nomor 931/B.H/VIII tertanggal 30 Nopember 1981.

Modal yang dimiliki waktu itu baru Rp 5,5 juta. Modal sebesar itu kurang memadai untuk memulai oprasional koperasi dalam melayani anggota, karena harus mengontrak sebuah ruangan dan gaji karyawan. Tambahan modal mutlak diperlukan. Untuk itu, atas persetujuan anggota, Bapak Ketut Rames Iswara, S.H., bersedia menambahkan modal untuk koperasi sebesar Rp 5,5 juta sehingga modal yang dimiliki menjadi Rp 11 juta.

Setelah KSP Wisuda Guna Raharja terbentuk, anggota memercayakan Bapak F.X. Wayan Geria Alm. sebagai ketua. Sebelum tahun 1981 pengurus menyewa ruangan kecil di Sanglah, persis di sebelah selatan pabrik rokok Penamas waktu itu (di sebelah utara pasar Sanglah sekarang). Sebelum menempati ruangan di Yayasan Swastiastu (sekarang Yayasan Insan Mandiri), pimpinan kantor dipercayakan kepada Ibu Any Herawati, isteri Bapak Matheus Oka Wirawan. Koperasi yang baru lahir itu memerlukan perawatan khusus yang mengharuskan pengorbanan dari pengurus. Banyak yang merasa prihatin namun hanya dari jauh. Ibu Any Herawati akhirnya mengundurkan diri.

Melalui surat perjanjian sewa-menyewa tertanggal 31 Januari 1981, KSP Wisuda Guna Raharja mengontrak satu ruangan di Yayasan Swastiastu Jalan Serma Kawi. Perjanjian ditandatangani oleh Ketua Yayasan Swastiastu waktu itu Rm. Piet Nyoman Giri, Pr. dan Ketua KSP Wisuda Guna Raharja waktu itu yaitu Bapak Matheus Oka Wirawan. Selama sekitar 10 tahun KSP Wisuda Guna Raharja berkantor di Yayasan Swastiastu dengan nilai kontrak sebesar Rp 2,5 juta. Hanya saja KSP Wisuda Guna Raharja tidak membayar secara tunai kepada Yayasan Swastiastu namun dibukukan sebagai modal penyertaan. Manajer KSP Wisuda Guna Raharja waktu itu adalah Bapak Wayan Wikana. KSP Wisuda Guna Raharja menggunakan kantor di Yayasan Swastiastu hanya hingga Maret 1986 atau tidak sampai akhir masa kontrak karena KSP Wisuda Guna Raharja, pindah ke Jalan Veteran, menempati sebuah bangunan lantai tiga milik Bapak Ketut Rames Iswara, S.H., yang dianggap lebih strategis dan lebih representatif. Tahun 1991 KSP Wisuda Guna Raharja berhasil membeli ruko di jalan yang sama yang letaknya di belakang kantor sebelumnya.

Kebijakan Pakto

Pada tahun 1987 Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan nama Pakto (Paket Oktober). Pakto ini mengatur pendirian perbankan. Yang menentukan bahwa bank-bank perkreditan rakyat dan lembaga keuangan lainnya tidak boleh beroperasi di ibu kota provinsi dan kabupaten kecuali di ibu kota kecamatan. Pengertian “lembaga keuangan lainnya” ini, ditafsirkan oleh beberapa anggota sebagai koperasi simpan pinjam.

Masuk akal apabila muncul ide dikalangan anggota mendirikan sebuah bank untuk menggantikan keperasi. Namun banyak juga anggota yang didukung oleh pengurus yang saat itu diketuai Bapak F.X. Wayan Geria untuk menolak ide tersebut. Pada RAT tahun 1987, yang dihadiri oleh wakil dari Departemen Koperasi Kabupaten Badung, Bapak Rujaya, menjelaskan bahwa Paket Oktober tidak berlaku untuk koperasi.

Profesionalisme Pengelolaan

Selama sekitar 17 tahun KSP Wisuda Guna Raharja berkantor di Jalan Veteran. Dan ketika berbagai kemajuan dan perkembangan telah dilalui dan dialami, dirasa juga bahwa kantor tiga lantai di Jalan Veteran sudah tidak representatif lagi untuk berbagai kegiatan KSP Wisuda Guna Raharja dalam rangka mewujudkan pengelolaan profesional di atas jati diri koperasi itu sendiri. Kecuali itu, dinilai juga bahwa kantor itu tidak strategis lagi untuk pengembangan Koperasi Wisuda ke depan. Demikianlah, setelah Kepengurusan baru dipilih pada RAT XXVII pada bulan Maret 2008, upaya-upaya perubahan ke arah profesionalisme pengelolaan menjadi komitmen yang tidak bisa ditawar. Rencana Strategis 2008-2012 disusun kemudian disosialisasikan baik kepada anggota maupun, seluruh jajaran Kepengurusan dan Manajemen. Jajaran Pengurus periode 2008-2010: Sebastianus Hayong (Ketua), Drs. F.X. Soenaryo, M.S. (Wakil Ketua), Drs. Y. Gede Sutmasa, M.Si. (Sekretaris), P. Budy Hartono, S.E. (Bendahara), dan Chris Wisnu Sridana, M.B.A. (Anggota Pengurus). Di jajaran Pengawas ada Drs. Wayan Wertiana (Ketua), Drs. T. Wayan Sarjana, M.Pd. (Sekretaris) dan Drs. Laurens Bahang Dama (Anggota). Sementara Manajemen dipimpin oleh Cyrilus Nyoman Purnawan selaku Manajer.

Pada tanggal 8 Agustus 2008 (08-08-08) pemberkatan dan peresmian gedung kantor KSP Wisuda Guna Raharja yang berlokasi di jalan Gunung Agung No. 146/1 Denpasar, dilaksanakan. Pemberkatan dan misa syukur dipimpin oleh Rm. P. Made Mariatma, SVD (kini sudah almarhum), didampingi oleh Rm. Josef Wora, SVD (Dekenat Bali Timur). Kedua pastor juga adalah anggota KSP Wisuda Guna Raharja. Dengan demikian sejak bulan Agustus 2008 operasional KSP Wisuda Guna Raharja. Aset kantor lama di jalan Veteran dijual dan dibeli serta dimanfaatkan oleh Kopdit Tirta Raharja.

Komitmen Kepengurusan dan jajaran manajemen serta didukung oleh anggota, yang kemudian semakin menaruh kepercayaan pada koperasi mereka, menghasilkan perkembangan dan kemajuan yang sangat signifikan. Anggota yang pada akhir tahun buku 2007 (awal 2008) berjumlah 542 orang, pada akhir tahun buku 2010 sudah menjadi 1.511 orang, lalu pada bulan Oktober 2011 telah mencapai 1.900 orang lebih. Sedangkan aset bertumbuh dari Rp 14 milyar menjadi Rp 25 milyar pada akhir 2010 dan menjadi Rp 30,5 milyar pada bulan Oktober 2011, pinjaman beredar dari Rp 8 milyar menjadi Rp 21,5 milyar pada Desember 2010 dan Rp 24,6 milyar pada bulan Oktober 2011. Perubahan, kata orang, adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Perubahan selalu terjadi. Demikian juga dengan Koperasi Wisuda. Pada Desember 2008 Cyrilus Nyoman Purnawan, S.E. mengundurkan diri sebagai manajer. Fungsi manajerial kemudian dilaksanakan secara kolektif oleh Pengurus. Baru kemudian pada bulan November 2009, melalui proses seleksi dari Tim Rekrutmen Manajer, Drs. Y. Gede Sutmasa, M.Si ditetapkan sebagai Manajer. Jabatan Sekretaris kemudian dilakukan oleh Wakil Ketua Pengurus, Drs. F.X. Soenaryo, M.S. secara ad in terrim. Sementara itu, anggota Pengawas, Drs. Laurens Bahang Dama, karena terpilih dan ditetapkan sebagai anggota DPR, pada RAT XXIX pada bulan Maret 2010 menyatakan mengundurkan diri. Posisinya kemudian secara antar waktu pada bulan April 2010 diisi oleh Bapak Eduardus Endi, sementara jabatan sekretaris diisi oleh Bapak Ir. P. Ketut Murdana, M.P.

Apresiasi dan Orientasi Pembelajaran

Pertumbuhan dan perkembangan KSP Wisuda Guna Raharja dari waktu ke waktu rupanya selalu dalam pantauan dan penilaian Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali sebagai pembina. Maka sesuai dengan kriteria penilaian yang ditentukan, berdasarkan Keputusan Gubernur Bali Nomor 573/03-D/HK/2010 tentang Penetapan Koperasi Berprestasi Provinsi Bali Tahun 2010 tertanggal 03 Mei 2010, KSP-WGR ditetapkan sebagai Juara I Koperasi Berprestasi Provinsi Bali untuk kategori Simpan Pinjam. Kemudian pada tahun yang sama, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indoneesia Nomor 19/Kep/M.KUKM/VII/2010 tentang Penetapan Koperasi Berprestasi dan Koperasi Penerima Award Tahun 2010, KSP Wisuda Guna Raharja ditetapkan sebagai Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional untuk kategori Simpan Pinjam.

Sejak tahun 2010 tersebut, atas berbagai pembelajaran yang boleh dilalui oleh KSP-WGR berikut hasil-hasil yang boleh dicapai, atas pendampingan dan rekomendasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, KSP Wisuda Guna Raharja kemudian menerima cukup banyak kunjungan studi banding dari sesame gerakan koperasi dari luar pulau Bali. Tercatat antara lain Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta dan beberapa gerakan koperasi di lingkungannya pada bulan Oktober 2010, lalu gerakan koperasi dan Dinas Kopersai dan UKM Kabupaten Situbondo Jawa Timur pada bulan Desember 2010. Pada tahun 2011 berturut-turut KSP-WGR menerima kunjungan studi banding dari Mataram, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Dinas Koperasi dan UKM Kalimantan Selatan, Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung, Dinas Koperasi dan UKM Kota Makasar, dan Acheh Society Development Cooperative – Aceh.

Kerja sama dengan Unit Pelayanan Teknis (UPT) Diklat Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali pun kemudian terjalin dengan baik. Jalinan ini kemudian ditindaklanjuti dengan mengirimkan para peserta pelatihan UPT Diklat untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di KSP Wisuda Guna Raharja, antara lain pada bulan Juli dan September 2011. Sekali lagi, dukungan dan kepercayaan anggota dan calon anggota menjadi faktor yang sangat determinan dalam berbagai perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh koperasi mereka sendiri. Pengembangan dan perluasan pelayanan pun akhirnya diupayakan dengan membuka Tempat Pelayanan (TP) di Tuban pada bulan November 2008, yaitu di lingkungan Sekolah Soverdi di Kompleks Burung. Pada 30 Oktober 2010 dibuka juga TP di Palasari – Negara, lalu 27 November 2010 di Gianyar, 29 Desember 2010 di Kampial Nusa Dua dan kemudian pada 7 Agustus 2011 di Negara. Pembukaan TP-TP tersebut dalam rangka mendekatkan pelayanan Koperasi kepada anggota yang memang tersebar di seluruh Bali, di samping juga dalam rangka program pengembangan agar Koperasi Wisuda menjadi semakin besar, dimanfaatkan oleh semakin banyak orang dan memberikan arti dan manfaat bagi seluas-luasnya umat Keuskupan Denpasar.

NILAI UNIT SIMPANAN

ANGGOTA BARU 2024

Simpanan Pokok :
Simpanan Wajib :
:
 

Simpanan Pokok :  250.000
Simpanan Wajib :  50.000
Kontri. Pelatihan :  100.000
Administrasi :  100.000
Iuran Gedung :  100.000
Tab. SIBUHAR :  50.000
:  650.000
Kritik Saran

Info Cepat

Berita Terkini